Senin, 02 Januari 2012

LAPORAN PENDAHULUAN EKSOTROPIA ATAU JULING KELUAR


A.    PENGERTIAN
Strabismus adalah efek penglihatan dimana kedua mata tidak tertuju pada satu obyek yang menjdi pusat perhatian. Satu mata bisa terfokus pada satu obyek sedangkan mata yang lain dapat bergulir ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.
Sedangkan eksotropia atau juling keluar merupakan bentuk lain dari juling yang sering ditemukan. Bentuk juling ini paling sering terjadi saat seseorang berfokus pada obyek yang jauh. Sering ditemukan pada masa bayi dan anak-anak. Insidensinya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

B.     KLASIFIKASI
  1. Eksotropia dasar
Deviasi dekat kurang lebih sama dengan deviasi jauh
  1. Eksotropia ok ekses deviasi (melebar yang berlebihan)
Deviasi jauh lebih besar daripada deviasi dekat
  1. Eksotropia ok insuficiency convergensi (tidak bisa konvergensi)
Deviasi dekat lebih besar daripada deviasi jauh
  1. Eksotropia ok ekses pseudodivergensi
Deviasi jauh jelas jelas lebih besar daripada deviasi dekat, namun pemakaian lensa + 3 dioptri untuk pengukuran dekat akan menyebabkan eviasi dekat mendekati deviasi jauh

C.     ETIOLOGI
Penyebab pasti belum diketahui, tetapi pada beberapa kasus unsur herediter atau keturunan sangatlah mungkin terjadi. Tetapi mata juling lazim ditemukan pada anak-anak dengan kelainan otak, seperti :
·         Down syndrom
·         Hidrocephalus
·         Cerebral palsy
·         Tumor otak
·         Anak yang lahir prematur
·         Kemunduran daya penglihatan atau ambliopia
·         Kongenital

D.    MANIFESTASI KLINIK
1.      Bila melirik, perguliran bola mata tidak sampai ke ujung
2.      Mata yang tidak lurus
3.      Penutupan atau memicingkan satu mata pada cahaya terang
4.      Bila melihat obyek jauh, akan ada 2 bayangan

E.     PATOFISIOLOGI
Anatomi indera penglihatan dikatakan normal jika bayangan sebuah benda yang dilihat oleh kedua mata diterima dengan ketajaman yang sama. Bayangan ini secara serentak akan dikirim ke Susunan Saraf Pusat (SSP) untuk diolah sensasi penglihatan tunggal, penglihatan tunggal ini bisa terjadi kalau kedua mata dapat mempertahankan daya koordinasi untuk menjadikan kedua bayangan suatu benda menjadi satu (fusi). Sebaliknya fusi akan hilang bila daya penglihatan salah satu mata berkurang atau bahkan tidak ada.
Pada penderita mata juling, mata tidak mempunyai satu kesatuan titik pandang. Kedudukan sumbu kedua bola mata itu tidak searah, akibatnya mata akan melihat dua benda atau dua bayangan (diplopia). Untuk menghindari penglihatan rangkap ini, penderita strabismus lalu berusaha supresi atau tidak menggunakan matanya yang sakit. Mereka hanya akan melihat dengan matanya yang sehat. Sebab itu, penderita strabismus sering mengeluh mudah lelah atau merasa penglihatannya berkurang pada satu matanya.

F.      PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
ü  Menurut dr. Raman R. Saman, M.D. Ophth., AMS, MBA, ahli mata dari RS Prof. Dr. Isak Salim ”Aini” Jakarta mengungkapkan bahwa untuk mengetahui penyebab lebih lanjut perlu pemeriksaan menyeluruh mulai dari anatomi mata, fafal atau fisiologi, sampai apakah sipenderita mengidap penyakit tertentu.
ü  Tes mata : tes pemeriksaan penglihatan

G.    PENATALAKSANAAN
ü  Kalau masalahnya berhubungan dengan refraksi atau ketajaman penglihatan bisa ditanggulangi dengan kacamata. Kacamata bisa spheris, silinder atau prism, bisa juga dengan lensa kontak (terutama bagi yang minusnya tinggi)
ü  Koreksi bedah refraktif untuk mengurangi kelainan rabun dengan menggunakan pisau bedah atau laser excimer
ü  Bila persoalannya menyangkut otot, bisa dilakuakn pembedahan sesuai dengan kebutuhan misalnya otot yang kepanjangan dipendekkan (diresek), sebaliknya otot yang kepanjangan dipendekkan dengan menggeser lokasi perlekatan pangkal otot (reses terhadap insersi otot)
Bila juling akibat kecelakaan (trauma), umumnya dikoreksi dengan tindakan pembedahan

A.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Gangguan sensori perseptual : penglihatan b.d. daya penglihatan menurun
2.      Resiko cedera berhubungan penglihatan ganda (diplopia)
3.      Resti infeksi b.d. post de entry kuman
4.      Resiko gangguan harga diri rendah b.d. perubahan penampilan
5.      Nyeri b.d. tindakan invasif
6.      Ansietas b.d. kurang informasi tentang prosedur operasi

B.     INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Gangguan sensori perseptual : penglihatan b.d. daya penglihatan menurun
Tujuan    : Daya penglihatan membaik dengan kriteria hasil :
a.       Pasien dapat melihat dengan jelas
b.      Mata tidak mudah lelah
c.       Visus mata tidak menurun
Intervensi :
§  Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat
Rasional :  kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif, bila bilateral tiap mata tetap berlanjut pada laju yang berbeda tetapi biasanya hanya satu mat yang diperbaiki per prosedur
§  Orientasikan pasien terhadap lingkungan, perawat, pasien lain di sekitarnya.
Rasional :  meningkatkan rasa nyaman dan kekeluargaan
§  Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan
Rasional :  memungkinkan pasien melihat obyek lebih mudah
§  Observasi tanda-tanda disorientasi ; pertahankan pengaman tempat tidur
Rasional :  menurunkan resiko jatuh apabila pasien bingung akibat keterbatasan penglihatan

2.      Resiko cedera berhubungan penglihatan ganda (diplopia)
Tujuan    : pencegahan terhadap cedera dengan KH :
a.       Tidak terjadi cedera pada mata
b.      Mampu melakukan aktifitas dengan aman di lingkungannya
Intervensi :
§  Orientasikan pasien pada lingkungan
R   :  meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan
§  Bantu pasien menata lingkungan, jangan mengubah penataan meja kursi tanpa diorientasikan pada pasien terlebih dahulu
R   :  memfasilitasi kemandirian dan menurunkan resiko cedera
§  Anjurkan menggunakan perisai metal atau kacamata bila diperintahkan
R   :  tameng logam atau kacamata melindungi mata terhaap cedera

 
DAFTAR PUSTAKA

Vaughan, Daniel G. Ashbury, Taylor. Riordan-Eva, Paul. 2000. ”Oftalmologi Umum ”. Jakarta: Widya Medika
Doengoes, Marylinn E. 2000. ”Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien”. Jakarta: EGC
Smetlzer, Suzanne C. Bare, Brenda G. 2002. ”Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8”. Jakarta: EGC

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Newer Post Older Post ►