Selasa, 22 November 2011

Asma Pada Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Asma merupakan penyebab utama penyakit kronis pada masa kana-kanak, menyebabkan kehilangan hari-hari sekolah yang berarti karena penyakit kronis. Asma merupakan diagnosis masuk yang paling sering di rumah sakit anak dan berakibat kehilangan 5 – 7 hari sekolah secara nasional/tahun/anak. Sebanyak 10-15 % anak laki-laki dan 7 – 10% anak wanita dapat menderita asma pada suatu saat selama masa kanak-kanak. Sebelum pubertas sekitar dua kali anak laki-laki yang lebih sering terkena daripada anak wanita. Asma dapat menyebabkan gangguan psikologis pada keluarga, namun dengan pengobatan yang tepat, pengendalian gejala yang memuaskan hampir selalu dimungkinkan. (Behrman, dkk. 2000).
Kira-kira 2-20% populasi anak dilaporkan pernah mederita asma. Diindonesia belum ada penyelidikan yang menyeluuh, tetapi diperkirakan berkisar antara 5-10%. Dipoliklinik Subbagian Paru Anak FKUI/RSCM Jakarta lebih dari 50% kunjungan merupakan pasien asma. (Ngastiyah, 1997).
Asma dapat timbul pada segala umur, 30% penderita bergejala pada umur 1 tahun, sedang 80-90% anak asma mempunyai gejala pertamanya sebelum umur 4-5 tahun. Perjalanan dan keparahan asma sukar diramal. Sebagian besar anak yang terkena kadang-kadang hanya mendapat serangan ringan dan sedang, relatif mudah di tangani. Penelitian longitudinal menunjukan bahwa sekitar 50% dari semua anak asma sebenarnya bebas gejala dalam 10-20 tahun, tetapi sering terjadi kekambuhan pada masa kanak-kanak. Pada anak yang menderita asma ringan yang timbul antara umur 2 tahun hingga pubertas, angka kesembuhan sekitar 50%, dan hanya 5% yang mngalami penyakit berat. Sebaliknya, anak dengan asma berat, yang ditandai dengan pnyakit kronis tergantung steroid dengan riwayat inap dirumah sakit yang sering, jarang membaik, dan sekitar 95% menjadi orang dewasa asmatis. (Behrman, dkk. 2000).



B.     TUJUAN
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep asma yang terjadi pada anak serta memahami bagaimana asuhan keperawatan yang terjadi pada anak dengan asma

2.      Tujuan Khusus
1.      Mahasiswa Mengetahui pengertian asma
2.      Mahasiswa mampu mengetahui penyebab terjadinya asma
3.      Mahasiswa mampu mengetahui klasifikasi asma
4.      Mahasiswa mampu memahami patofisiologi terjadinya asma
5.      Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan diagnostic dan penatalaksanaan asma
6.      Mahasiswa mampu memahami komplikasi asma
7.      Mahasiswa mampu memahami pengkajian pada anak dengan asma
8.      Mahasiswa mampu memahami diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada anak dengan asma
9.      Mahasiswa mampu mengetahui rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan diagnose yang ditemukan








BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    PENGERTIAN ASMA
Asma ialah penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai ransangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. (Ngastiyah, 1997)
Asma adalah mengi berulang dan/batuk persisten dalam keadaan dimana asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab lain lebih jarang telah disingkirkan. (Kapita Selekta Kedokteran FK UI, 2000).
Asthma disebut juga sebagai reactive airway disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara reversible yang ditandai dengan inflamasi, dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulant. (Suriadi, Yuliani, 2010).
Asma ialah suatu proses obstruksi pernapasan yang reversible, yang ditandai oleh periode eksaserbasi dan remisi, terjadi spasme bronchial yang mengakibatkan obstruksi jalan napas. (Morgan, 2008)

B.     ETIOLOGI
1.      Faktor Predisposisi
a.       Genetik
Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus.
2.      Faktor Presipitasi
a.       Infeksi
Infeksi virus merupakan factor pencetus asma tersering, infeksi mungkin penting pada anak yang mengalami masalah terutama pada musim dingin.

b.      Alergi
Alergen dapat diidentifikasi dari anamnesis (misalnya pajanan spesifik atau pada musim bunga). Riwayat keluarga alergi sering ditemukan. Tes antibody spesifik kurang berperan pada tatalaksana
c.       Emosi
Masalah emosi berat dapat mempresipitasi serangan pertama mengi. Umumnya, rasa senang atau cemas dapat mempresipitasi atau memperberat serangan.
d.      Aktivitas
Mengi yang diinduksi aktivitas terjadi terutama ketika berlari dalam cuaca dingin. Hati-hati pada anak yang dapat mulai bermain bola namun tidak bertahan lebih dari 20 menit. Banyak anak asma yang mengi saat aktivitas, terutama bila berlari. (Meadow & Newell, 2002)

C.    KLASIFIKASI
Menurut Brunner & Suddart ( 2002 ), asma terbagi menjadi:
1.      Asma Alergik ( Ekstrinsik )
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2.      Asma Non Alergik ( Intrinsik )
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.


3.      Asma Gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentukalergik dan non-alergik.
Sedangkan menurut Ngastiyah (1997) pembagian asma yaitu :
1.      Asma episodik yang jarang
Biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran napas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam 1 tahun. Lamanya serangan dapat beberapa hari, jarang merupakan serangan yang berat.
Gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat berlangsung kurang dari 3-4 hari, sedang batuk-batuknya dapat berlangsung 10-14 hari. Manifestasi alergi lainnya misalnya eksim, jarang terdapat pada golongan ini. Tumbuh kembang anak biasanya baik, di luar serangan tidak ditemukan kelainan. Waktu remisi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Golongan ini merupakan 70-75% dari populasi asma anak
2.      Asma episodik sering
Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya dengan perubahan udara, adanya alergen, aktifitas fisik dan stres. Banyak yang tidak jelas pencetusnya. Frekuensi serangan 3-4 kali dalam satu tahun, tiap serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling tinggi pada umur 8-13 tahun. Pada golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umunya gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan abtuk dan mengi yang akan menganggu tidurnya.
Pemeriksaan fisik diluar serangan tergantung frekuensi serangan. Jika waktu serangan lebih dari 1-2 minggu. Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Gangguan pertumbuhan jarang terjadi. Golongan ini merupakan 20% dari populasi asma pada anak.

3.      Asma kronik atau persisten
Pada 25% anak golongan ini, serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur 3 tahun. Pada lebih dari 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama, dan 50% sisanya serangan episodik. Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari, malam hari terganggu oleh batuk dan mengi. Aktivitas fisik sering menyebabkan mengi. Dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan sering memerlukan perawatan dirumah sakit

D.    PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. ( Price & Willsom, 2002 )

E.     MANIFESTASI KLINIS
1.      Wheezing
2.      Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada dan stridor
3.      Batuk kering (Tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan nafas sempit
4.      Tachypnea, tachycardia, orthopnea
5.      Gelisah
6.      Berbicara sulit atau  pendek karena sesak nafas
7.      Diaphorosis
8.      Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan
9.      Fatigue
10.  Tidak toleran terhadap aktifitas, makan, bermain, berjalan, bahkan bicara
11.  Kecemasan, labil, dan perubahan tingkat kesadaran
12.  Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest)
13.  Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur
14.  Auskultasi, terdengar ronki dan creackles.

F.     PENANGANAN
Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale :
1.      Menghilangkan obstruksi jalan nafas
2.      Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.
3.      Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun penjelasan penyakit.
Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :
1.      Pengobatan dengan obat-obatan seperti :
a.       Beta agonist (beta adrenergik agent)
b.      Methylxanlines (enphy bronkodilator)
c.       Anti kolinergik (bronkodilator)
d.      Kortikosteroid
e.       Mast cell inhibitor (lewat inhalasi)
2.      Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :
a.       Oksigen 4-6 liter/menit.
b.      Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam. Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan.
c.       Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam.
d.      Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
3.      Pemeriksaan Penunjang :
Beberapa pemeriksaan penunjang seperti :
a.       Spirometri :
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
b.      Tes provokasi :
1)      Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.
2)      Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.
3)      Tes provokasi bronkial seperti :
Tes provokasi histamin, metakolin, alergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.
4)      Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh.
c.       Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum.
d.      Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal.
e.       Analisa gas darah dilakukan pada asma berat.
f.       Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.
g.      Pemeriksaan sputum.

0 komentar:

Posting Komentar

◄ Newer Post Older Post ►